Maggie Tiojakin: “Luaskan Batasan Dunia Dengan Bacaan”

Berikut ini adalah cuplikan obrolan ringan (baca: wawancara) dalam segmen #Twitteriak yang dilangsungkan via Twitter oleh Scriptozoid! bersama Maggie Tiojakin mengenai dunia tulis-menulis, Winter Dreams dan Fiksi Lotus. Untuk membaca wawancara lengkapnya, silakan akses Twitteriak Eps. 4.

——————————-

Perhatian publik tercuri lewat cerita-cerita pendek yang ia tuliskan di The Jakarta PostWeekender. Kemudian kumpulan cerpennya diterbitkan mulai dari Homecoming hingga Balada Ching-Ching. Ada yang menyebutnya penulis Indonesia dengan wawasan global, tetapi Scriptozoid! menilai kehadiran penulis muda Maggie Tiojakin ini sebagai the most promising young writer lewat kumcer Balada Ching-Ching.

Menggemari L.A. Law hingga sempat bercita-cita menjadi pengacara, tetapi akhirnya Maggie malah menekuni dunia tulis-menulis sejak kecil. Dalam blog maggietiojakin.com ia bahkan pernah menulis novel 400-an halaman di masa kecil dengan judul NIBOR yang bila dibalik akan menjadi nama ROBIN namun menghilangkannya.

Kekuatan tulisan-tulisannya ada pada tema konflik psikologis dan karakter manusia modern yang terjebak di dalam arus zaman. Tahun 2011 ini, ia melahirkan skenario film dan satu novel baru. Di akhir tahun 2011, mari simak obrolan TWITTERIAK dengan Maggie Tiojakin berikut ini.

Scriptozoid!: Senang @MaggieTiojakin bisa ada di #Twitteriak episode akhir tahun 2011. Ingin tahu deh, apa arti tahun 2011 buat Maggie?
Maggie Tiojakin: Sama-sama, senang juga bisa join #Twitteriak yang mantap ini. 2011 tahun penuh berkah buat aku.

Scriptozoid!: Itu apa artinya ya? Jelasin donk lebih banyak…
Maggie Tiojakin: Tahun 2011 ini aku bisa menyelesaikan novel #WinterDreams. Aku juga diberi kesempatan oleh @Gramedia untuk menerjemahkan karya-karya klasik. Dan aku bisa kerja bareng @awisuryadi n @Delon_Tio untuk film Simfoni Luar Biasa (#SLB)

Scriptozoid!: Wow, dunia cerpen, novel, dan film. Gimana cara Maggie menempatkan diri di tiga hal menarik itu?
Maggie Tiojakin: Go with the flow aja sih sebenernya. Ketiganya menarik untuk dieksplorasi. Dan prinsipnya sama, teknik aja beda. Benang merahnya satu: bercerita. Karena nggak semua cerita bisa diceritakan dengan satu medium.

Scriptozoid!: Dalam skala tingkat kesulitan 0-10, berapa tinggi skor bercerita lewat cerpen, novel, film?

Maggie Tiojakin: Hmmm. Nggak bisa diukur menurutku. Karena masing-masing medium punya tantangan sendiri-sendiri. Cerpen itu medium penceritaan singkat dgn unsur cerita lengkap. Contohnya komik Archie, ceritanya itu-itu aja, lokasinya juga. Tapi karakternya yang bikin hidup.

Scriptozoid!: Martin Scorcese pernah ditanya penting mana antara cerita vs. plot. Kalau saya masukkan karakter ke dalamnya, mana dari 3 ini yang penting buat Maggie?
Maggie Tiojakin: Karena aku bicara dari segi penulis, bukan filmmaker, yang paling penting itu karakter. Buat aku, cerita dan plot seru gak ada artinya kalau karakternya generik. Dan prinsip ini, buatku, berlaku untuk semua jenis cerita: cerpen, novel, film, atau komik.

Scriptozoid!: Oke, kalau gitu siapa karakter-karakter yang Maggie gunakan di dalam cerita-cerita Maggie? Seberapa dekat mereka dgn realita? Siapa itu Andari Maimar di cerpen Dua Sisi, Nicky F. Rompa di #Winterdreams, Suci di Anatomi Mukjizat? 
Maggie Tiojakin: Karakter-karakter di cerita aku semuanya dari realita. Orang-orang yang aku tahu secara personal ataupun yang aku baca di media. Semua karakterku punya porsi realita beragam. Ada investasi imajinasi, orang lain serta dari pribadiku juga. Intinya baik itu Andari, Nicky maupun Suci could be anyone we know.

Scriptozoid!: Karakter Andari, Nicky, Suci buat saya betul-betul asing, tetapi emosi-emosi mereka nyata. Soal emosi, apa komentar Maggie? 
Maggie Tiojakin: Emosi itu buat aku benang merah setiap cerita. Ini jembatan yg menyatukan pembaca dengan cerita. Karakter itu kendaraan yang melalui pilihan-pilihannyanya menyampaikan emosi ke pembaca. Nah, kalau cerita itu sukses, emosi tersebut memicu empati dalam diri pembaca. Dan empati itu yang nantinya berpotensi mengubah pandangan hidup pembaca.

Scriptozoid!: Ada pertanyaan dari @ndarow. Ia bertanya “Dalam menulis fiksi, seberapa jelas seharusnya kita menerangkan detil cerita?”
Maggie Tiojakin: Sesuai dengan kebutuhan cerita. Yang perlu diawasi jangan sampai detailnya menghilangkan poin cerita.

Scriptozoid!: Seberapa besar pengaruh apa dibaca, tonton, dengar waktu kecil pada kematangan bercerita Maggie sekarang ini? 
Maggie Tiojakin: Besar banget! Itu proses belajar bercerita sesungguhnya. Ditambah berlatih rutin. Semua penulis itu peran terbesarnya adalah sebagai pembaca, penikmat cerita.Kata mentorku dulu, kalau mau nulis, sebaiknya belajar dari penulis yg sudah mati.Dulu bacaanku John Grisham dan Danielle Steel. Tontonan 90210. Musik Celine Dion. List-nya dibongkar saat aku tinggal, kerja, sekolah di AS. Jadi Hemingway, Fitzgerld, Munro, Lahiri.

Akses wawancara lengkapnya di sini.

Pesan Dari Langit

Steve Almond

Aku sedang dalam perjalanan menemui Wilkes. Kami sudah janji untuk sarapan bersama. Wilkes adalah seseorang yang kukenal sejak masa kuliah dulu. Ia merupakan pemain nomor satu dalam cabang olah raga squash di kampus. Aku pernah menantangnya sekali, saat sedang iseng-iseng main squash, dan dia mengalahkanku dengan pukulan-pukulan telak. Tak lama setelah ia mengalahkanku, Wilkes membuka rahasianya kepadaku di kamar ganti.

“Visi,” katanya. “Kau harus bisa memprediksikan apa yang akan terjadi.”

Sekarang lima tahun sudah berlalu sejak saat itu, namun aku masih merasa seolah aku berhutang budi padanya. Aku sadar ini perbuatan bodoh, tapi aku tidak bisa menolak ajakannya. Aku terus mengingat pukulan-pukulan jitu yang ia lemparkan dulu—indah dan elegan seperti putaran payung parasol.

Ketika aku tiba di restoran, Wilkes sudah duduk di salah satu booth di bagian belakang. Kami saling menyapa dan Wilkes mengangkat menu yang ada di atas meja, lalu menurunkannya lagi.

“Kita sudah lama berteman kan, Jim?”

“Tentu saja,” kataku.

“Sekitar delapan tahunan ya.”

“Kira-kira segitu.”

“Kau takkan berpikir yang macam-macam tentangku kalau kuceritakan sebuah rahasia penting kepadamu, kan?”

“Tentu saja tidak,” kataku. Sebenarnya yang ada di kepalaku sekarang hanyalah pertanyaan mengenai harga sarapan di restoran ini dan apakah aku harus membayar bon makan kami nanti.

“Di kepalaku tertanam sebuah alat perekam,” kata Wilkes.

Matanya berkedut dan menerawang, sama seperti yang sering terjadi pada sejumlah bintang film ternama. Wilkes mengenakan sepotong blazer biru dengan kancing yang terselip di balik sulaman kain. Ia tampak seperti seorang pialang saham. Itu pekerjaannya sekarang: jual-beli saham.

“Sebuah alat perekam ditanam di dalam kepalaku untuk memata-matai kegiatanku. Alat itu ditanamkan di kepalaku sekitar beberapa tahun lalu, oleh mahluk luar angkasa. Aku tidak yakin kau tahu banyak soal peristiwa penculikan oleh mahluk luar angkasa, Jim. Apakah kau pernah mendengarnya?”

“Tunggu dulu,” kataku.

“Sebuah peristiwa penculikan bisa dilakukan dengan dua cara. Cara yang pertama—kau tidak perlu tahu terminologi teknisnya—tapi cara yang pertama dilakukan murni hanya untuk tujuan riset. Penuaian sel-sel manusia, semacam itulah. Sedangkan cara yang kedua melibatkan implan, Jim—seperti yang ada di otakku sekarang.”

Wilkes berasal dari area Chesapeake Bay di negara bagian Maryland. Ia berbicara dengan penuh kepastian seolah ia sudah melatihnya berhari-hari. Aku selalu berpikir ia akan jadi seorang pengacara korporat, dengan kantor di sebuah menara tinggi berdinding kaca dan seorang sekertaris yang sangat cantik.

“Maksudmu kau pernah diculik?” tanyaku.

Wilkes mengangguk. Ia mengangkat sebentuk garpu dan menyeimbangkannya di atas jempol. “Alat perekam di kepalaku fungsinya seperti kamera video. Tujuannya adalah agar para penjaga luar angkasa bisa mengamati kegiatan manusia tanpa menarik perhatian orang banyak.”

“Penjaga luar angkasa,” kataku.

“Mereka bisa melihat apapun yang kulihat.” Wilkes menatapku lama sekali. Rasanya lumayan menyeramkan, aku seperti menatap ke dalam ruang gelap di mana seseorang tengah mengamatiku. Lalu, Wilkes mengangkat wajahnya dan setengah bangkit dari kursi tempat ia duduk. “Ibu,” katanya. “Ayah. Hey, itu mereka. Kalian masih ingat kan dengan Jim?”

“Tentu saja,” ujar ibunya. Beliau adalah seorang wanita anggun dengan jabatan tangan lembut.

“Senang berjumpa denganmu,” kata Mr. Wilkes. “Tak disangka akan bertemu di sini. Tidak usah repot, please. Santai saja. Bagaimana kabarmu, Jim? Apa pekerjaanmu sekarang?”

“Aku bekerja di bidang riset,” kataku.

Wajah Mr. Wilkes serta-merta bersinar mendengar jawabanku. “Riset, ya? Kau senang meriset. Dalam bidang apa—bioteknologi?”

“Yea, semacam itu.”

Sejujurnya aku tidak pernah melakukan riset ilmiah. Tapi aku suka antusiasmenya, seolah pekerjaanku segitu pentingnya hingga tak bisa diganggu-gugat oleh siapapun.

“Bagaimana kabar orangtuamu?” tanya Mr. Wilkes.

“Kuharap kau akan menyampaikan salam kami untuk mereka,” sambut Mrs. Wilkes.

Seingatku orangtuaku tak pernah bertemu dengan Mr. dan Mrs. Wilkes.

“Jadi sedang apa kalian berdua di sini?” tanya Mr. Wilkes. Beliau berasal dari negara bagian Connecticut, tapi sesekali ia senang berbicara dengan logat Texas.

Wilkes mendempetkan tubuhnya di samping ayahnya dan mendadak suaranya berubah misterius layaknya seseorang yang sedang dirundungi banyak masalah keluarga. “Kami sedang ngobrol,” ujarnya. “Aku baru saja bilang pada Jim tentang alat perekam di kepalaku.”

Mr. Wilkes menatap putranya lama-lama, dan untuk sesaat aku teringat akan lukisan karya Francisco Goya di mana Dewa Saturnus melahap anak-anaknya seakan mereka tak ubahnya potongan ayam goreng. Mrs. Wilkes mulai memainkan botol kecil berisi garam dan lada dengan jemarinya yang lentik.

“Hmmm,” gumam Mr. Wilkes. “Bagaimana menurutmu, Jim?”

“Menarik,” kataku.

Menarik? Cuma itu? Ayolah. Kita sedang membicarakan alat perekam di dalam kepala manusia. Ini kasus implan yang sudah lama merebak di dunia.”

Pada saat itu aku lantas teringat akan sebuah kelas yang kuambil di tahun kedua di masa kuliah: Anatomi Keagamaan. Profesor yang mengajar kelas itu adalah seorang pria muda yang sedang melakukan riset di universitas kedokteran. Ia menjelaskan kepada kami bahwa kepercayaan terhadap kekuatan supernatural atau spiritual merupakan panggilan biologis yang ada dalam diri setiap manusia—seperti kelenjar. Topik ini membuat profesor itu sangat bersemangat.

Mr. Wilkes berkata: “Kau tahu kenapa mereka melakukannya, Jim?”

“Maaf?”

Mr. Wilkes menoleh ke arah putranya. “Apa kau sudah menjelaskan tentang fase-fase integrasi kepadanya? Tentang hybrid? Mahluk abu-abu dan lainnya?”

“Jim baru saja tiba sebelum kalian datang,” kilah Wilkes.

Mr. Wilkes duduk di hadapanku. Beliau adalah seorang pria kaya yang mendukung partai politik Republikan. Wajahnya agak merah dan beliau selalu mengenakan blazer biru. Penampilan dan tingkah-lakunya mencerminkan uang yang berlimpah.

“Kau pernah belajar tentang cerita rakyat di kampusmu yang bergengsi itu? Peri, goblin, dybbuk, arwah? Ingat, Jim? Ini adalah nama-nama yang digunakan masyarakat kuno untuk menggambarkan para penjaga luar angkasa. ‘Penampilan mereka seperti batu bara yang terbakar, seperti lampu yang bersinar terang: Mereka naik-turun di antara mahluk hidup dan cahaya mereka begitu membutakan hingga dari bara api yang mereka pancarkan timbullah petir.’ Itu ayat dari dalam Alkitab, bagian Ezekiel. Apa itu mengigatkanmu akan sesuatu, Jim? Apa kau teringat akan Tuhan yang berkuasa di atas sana, di singgasa-Nya?”

“Tidak,” kataku. “Tidak juga.”

“Ada sebabnya kenapa negeri ini meluncurkan Proyek Buku Biru untuk menelaah segala macam penampakkan piring terbang (UFO),” kata Mr. Wilkes. “Pemerintah harus melakukannya, Jim. Tanpa respon yang jelas, maka kita tidak akan bisa mencegah merebaknya panik. Coba kutanya padamu—apa kau tahu seberapa banyak orang mengaku melihat UFO dan melaporkannya ke Departemen Pertahanan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir? Tebak. Dua setengah juta orang. Penculikan? Tujuh ratus ribu orang lebih. Mahluk-mahluk luar angkasa itu ada di tengah-tengah kita, Jim.”

Pelayan kami tiba.

“Kalian menyajikan telur kocok di sini?” tanya Mr. Wilkes. Pelayan itu menggeleng.

“Kalau begitu roti panggang saja,” kata Mrs. Wilkes. “Sebaiknya kau makan roti panggang saja, dear.”

Wilkes tampak risih dan sama sekali tidak bersemangat seperti sebelumnya.

“Bagaimana dengan putih telur?” tanya Mr. Wilkes. “Bisakah kalian menyajikan omelet hanya dengan menggunakan putih telur?”

Si pelayan berdiri sambil menumpukan berat badannya dari satu kaki ke kaki yang lain. Pelayan itu lumayan cantik, meskipun tidak begitu menarik mengingat kondisi hidup yang harus dia jalani. “Omelet dengan apa?” tanya si pelayan.

“Bagian putih telur, yang tidak dibarengi oleh kuning telur,” ujar Mr. Wilkes dengan tidak sabar, seraya memperagakan gerakan mengocok telur dengan sebentuk garpu.

“Yang saya tanyakan Anda ingin makan omelet dengan sajian apa lagi,” tutur si pelayan dengan nada setengah jengkel.

“Oh, begitu. Oke. Bagaimana kalau ditambah jamur, keju Swiss dan daging bacon?”

Bacon?” tanya Mrs. Wilkes.

Aku tidak tahu harus memesan apa.

Si pelayan pergi dan Mr. Wilkes kembali menatapku. Beliau sudah pernah menggalang dana untuk partai Republikan dan aku bisa membayangkan betapa besar perannya dalam hal-hal seperti itu. “Mrs. Wilkes dan aku juga ditanami dengan implan. Ini bukan rahasia. Para mahluk luar angkasa itu memang biasanya menanamkan implan di kepala seluruh anggota keluarga. Apakah Jonathon sempat menjelaskan hal ini padamu?”

“Aku tidak menjelaskan apa-apa,” kata Wilkes. “Kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskannya, Yah.”

“Betul,” sambut Mrs. Wilkes. “Kau jangan mendominasi pembicaraan mereka dong, Warren.”

“Kau ingat terhadap Briggs?” tanya Wilkes kepadaku.

“Siapa?”

“Briggs. Ron Briggs. Ia pemain nomor dua di tim kampus. Dia juga memiliki implan di kepalanya. Dia tinggal di Sedona sekarang.”

“Apa kami kenal dengan dia?” tanya Mrs. Wilkes.

Mr. Wilkes menggoyangkan tangannya di udara dengan tak sabar. “Aku tidak akan membuatmu bosan dengan cerita penculikan keluarga kami, Jim. Lagipula mana mungkin? Kau datang kemari dengan tujuan untuk menyantap sarapan, namun nyatanya kau malah dibombardir dengan cerita macam ini. Yang penting untuk kau ketahui hanyalah peran yang dilakoni oleh mahluk luar angkasa ini. Jika mereka berniat menghancurkan bumi, jika itu tujuan mereka—tidak mungkin kita bisa ada di sini sekarang. Mereka itu penjaga manusia, Jim. Aku tidak mengatakan bahwa implan yang mereka tanamkan tidak punya konsekuensi, karena cepat atau lambat kau harus membiasakan diri terhadap gelombang beta yang berkeliaran dan membuat telingamu berdering keras. Val bahkan memiliki luka yang cukup besar di kepala karenanya.”

Kontan pipi Mrs. Wilkes merona merah karena malu. Rambut beliau ditata oleh penata rambut mahal dan kulitnya tampak sedikit pucat. “Sekarang Jim pasti berpikir kita sudah gila,” ujarnya.

“Tidak sama sekali,” kataku dengan nada rendah.

“Ah, biar saja. Kita memang gila,” kata Mr. Wilkes. “Semua spesies yang ada di dunia memang gila. Hanya orang bodoh yang berani menyangkal.”

Aku menunggu sampai pembicaraan mereka menemukan jeda sebelum bangkit dan pamit ke kamar kecil. Aku perlu menuangkan air dingin di telingaku. Maka kupenuhi wastafel dengan air kran dan cepat-cepat mencelupkan wajahku di sana sebelum mengangkatnya lagi untuk menatap bayanganku sendiri dalam cermin. Aku menatap wajahku sendiri dengan saksama hingga mataku membesar dan mulutku menganga lebar.

Ketika aku kembali ke meja makan kami, pesanan telah tiba dan keluarga Wilkes tengah menikmati santapan mereka dengan penuh kesopanan. Aku pernah mengunjungi rumah keluarga mereka sekali, saat mengantar Wilkes pulang dari pertandingan squash di Pennsylvania. Satu-satunya hal yang kuingat dari kunjungan itu hanyalah karpet-karpet yang mengalasi lantai rumah. Mungkin jumlah karpet itu ada ribuan, dengan pola cantik dan tampilan kaku—jenis karpet yang membuatku enggan untuk menginjaknya. Aku tidak bisa membayangkan apa rasanya tumbuh dewasa di rumah macam itu.

Roti panggang pesananku duduk di atas meja bersama potongan stroberi. Namun aku tidak lapar.

Mrs. Wilkes mengerutkan dahinya. “Ada yang salah dengan makananmu, Jim? Kami bisa memesankan menu yang lain kalau kau mau.”

“Aneh juga,” kataku akhirnya. “Kalian benar-benar berhasil mengecohku. Kalian memang keluarga humoris.”

Mendadak ketiganya menatapku dengan tajam. Pandangan mereka sama seperti kaum fanatik yang sedang berhadapan dengan seseorang yang meragukan kepercayaan mereka.

Aku kembali membayangkan profesor biologiku. Di akhir kelas, tepatnya sebelum aku memutuskan untuk tidak lagi mengikuti kelas tersebut, beliau memberikan pidato tentang sebuah zat kimia yang dilepaskan oleh kelenjar pineal. Ia menyebutnya sebagai molekul jiwa, karena zat ini memicu segala macam pemikiran mistis. Dosis paling kecil dari zat ini sanggup membuat otak manusia berpikir tentang para malaikat di alam yang berbeda dan berbicara dengan mereka. Zat ini biasanya dilepaskan menjelang kematian, saat roh dalam tubuh manusia dikatakan tengah bersiap untuk bangkit dan menguap pergi.

Mr. Wilkes tengah berbicara tentang sistem perbintangan Zeta Reticuli serta ajaran Tao dan efek Oz. Namun aku tidak tahu apakah beliau membicarakan hal-hal yang ingin dia bicarakan karena wajahnya merah dan sarat akan kekecewaan.

Si pelayan kembali menghampiri meja kami untuk mengangkat piring-piring sajian.

Wilkes mulai mengungkit nama beberapa teman yang kami kenal semasa kuliah, para pemuda yang membuatku berpikir tentang cologne berbau mencolok dan urinal di WC kampus.

Mrs. Wilkes pamit sebentar dan kembali dengan make-up yang sudah ditambahkan beberapa menit kemudian.

Mr. Wilkes meletakkan selembar uang bernilai lima puluh dolar di atas meja. Ini adalah kebiasaan beliau; dan seperti ritual pada umumnya, kebiasaan ini memberinya kesempatan untuk tampil berkuasa.

“Aku tidak tahu rencana pastinya, Jim. Jika ada orang yang bilang kepadamu bahwa mereka tahu rencana pastinya, kusarankan kau cepat-cepat menjauh dari orang itu. Tapi aku tahu benar bahwa mahluk-mahluk luar angkasa ini, yang berwarna abu-abu, tidak berniat buruk. Kalau mereka berniat buruk, tidak mungkin mereka mau repot-repot bepergian sejauh tiga-puluh-tujuh-tahun-cahaya hanya untuk menyelamatkan manusia. Misi inilah yang menyentuh hatiku,” kata Mr. Wilkes. “Baik aku, istriku maupun putraku merasa kami adalah bagian dari rencana yang lebih besar.” Beliau menatap ke arah istri dan putranya seraya melemparkan senyuman tulus. “Aku tahu bagimu hal ini terlihat aneh. Tapi kami tidak punya semua jawabannya. Semua manusia pasti pernah berbuat salah.” Beliau berusaha untuk mengatakan hal lain, namun suaranya yang berat mendadak bergetar.

Mrs. Wilkes meletakkan sebelah tangan di atas tangan suaminya.

“Apa yang kutahu?” tanya Mr. Wilkes.

“Kita semua pasti pernah berbuat salah,” ujar istriya.

“Aku bukan orang sempurna.”

“Tidak ada orang yang sempurna, sayang.”

Banyak hal yang saling terucap di antara mereka. Wajah Wilkes merona merah. Ayahnya seolah hendak menyentuh pipinya. “Mereka hanya ingin menyelamatkan manusia dari kesalahan-kesalahan fatal agar kita tidak merusak segalanya,” ujar Mr. Wilkes.

Si pelayan meninggalkan kembalian di atas meja. Di sekeliling kami, para pelanggan restoran sibuk menjalankan pagi mereka dengan penuh semangat, entah untuk tujuan apa.

Keluarga Wilkes duduk di meja yang sama dalam setelan pakaian mahal, tapi kini aku melihat sesuatu yang berbeda dari mereka. Aku melihat cahaya putih di pusat tubuh mereka. Aku melihat jiwa mereka. Aku tidak takut. Semua orang punya potensi untuk jadi orang suci jika dinilai dari jiwa mereka. Hal-hal lainnya tumbuh menutupi jiwa manusia layaknya rumput yang menjalar.

Aku terus teringat pada profesor gila itu. Suatu hari Thanksgiving ia memanggilku ke dalam ruangannya untuk menyampaikan perihal nilaiku yang buruk. Ia sangat terpukul, seakan nilaiku mencerminkan pengkhianatannya sebagai seorang pengajar. Ia tanya apakah aku sempat belajar sesuatu dalam kelasnya. Aku bilang tentu saja aku sempat belajar sesuatu dalam kelasnya, bahkan lebih dari itu. Namun ketika ia memintaku untuk menyebutkan satu, dua hal yang telah kupelajari dari kelasnya—mendadak kepalaku kosong. Sebelum aku pergi meninggalkan kelasnya, ia menghampiriku dan meletakkan tangannya di pundakku seraya berkata, Kita semua membutuhkan seseorang untuk menjaga kita, James.

“Kau percaya itu?” tanya Mr. Wilkes.

Aku yakin aku takkan melihat ketiga orang ini lagi dan hal tersebut membuatku merasa agak sedih, agak enggan untuk pergi.

Wilkes mengusap lengan jasnya. Mrs. Wilkes mengulas senyuman manis; sementara Mr. Wilkes perlahan-lahan, dengan penuh kelembutan, mulai menangis. Jiwanya tampak seperti sapu tangan kecil yang diselipkan di saku depan jas birunya.

“Kurasa kita akan baik-baik saja,” kataku. “Itu perasaanku.” Ini bukan rekaan semata. Sebaliknya, aku seperti sedang diberi inspirasi yang tulus oleh dunia. Semua yang akan terjadi seolah diperlihatkan kepadaku dengan jelas.

Di luar restoran, di atas langit, bahkan jauh di atas kumpulan satelit luar angkasa yang berderik mencatat data, suatu kelompok masyarakat penjaga dengan jiwa besar mungkin tengah menatapku dengan mata hitam yang memantulkan cahaya. Aku mulai melambai ke arah langit di luar sana. Si pelayan berjalan melewati meja makan yang kami tempati dan meniupkan sebuah kecupan ke arah kami. Wilkes meletakkan selembar uang senilai lima puluh dolar juga di atas meja seraya mengedipkan sebelah mata. Sinar matahari menembus gugusan awan dan menyinari jalur arteri kota yang diramaikan oleh kendaraan layaknya bohlam lampu yang bersinar di atas kerumunan kaleng kosong. Aku terus melambai dengan sekuat tenaga.

2012 © Hak Cipta. Fiksi Lotus dan Steve Almond. Tidak untuk dijual, digandakan ataupun ditukar.

—————————

# CATATAN:

> Ceria ini berjudul “The Soul Molecule” karya Steve Almond. Pertama kali diterbitkan di publikasi The Evil B.B. Chow pada tahun 2005.

>> STEVE ALMOND adalah seorang penulis asal Amerika Serikat. Ia bekerja selama tujuh tahun sebagai reporter sebelum beralih menulis fiksi. Karyanya telah diterbitkan oleh berbagai majalah dan jurnal sastra di AS, seperti Tin House, Ploughshares dan Playboy—serta beberapa juga telah memenangkan penghargaan bergengsi, Pushcart Prize.

Siluet di Rumah Reyot

Faye Yolody

Di dalam sebuah rumah reyot di seberang sungai, sepasang insan sedang mencinta. Tampak siluet tubuh kurus memeluk pinggang seorang perempuan bungkuk sedang berputar dengan tertatih-tatih. Kedua bayangan mereka menyatu, dan apabila dinding itu bisa merekam suara, akan terdengar sayu-sayu obrolan dengan irama yang lembut dan menenangkan. Buyar tawa sesekali terdengar menyelingi percakapan seru itu, kemudian terkadang kesunyian mencuri waktu dalam dekapan orang dalam siluet itu.

Retakan kaca, engsel pintu yang rusak, beserta rayap-rayap yang bersarang di pondasi kayu rumah tak sengaja mencuri dengan obrolan mereka, tanpa meminta izin pada dinding. Mereka menyaksikan langsung kedua insan itu tanpa harus menerka-nerka siluet. Si retakan mendadak terdiam, engsel pintu berhenti berdecit, dan rayap menunda pekerjaannya. Hanya angin di luar yang terus berhembus, mengamati si pemilik siluet, dan mengetahui kisah pahit manis di balik obrolan dan pelukan.

“Entah sampai kapan aku bisa merasakan hangat tanganmu lagi, Jan,” ujar perempuan itu lirih.

“Maka jangan lepas dari genggamanku lagi, Ratih,” ujar lelaki itu seraya mengecup dahi si perempuan yang terhalang rambut putih. Sesekali mereka menari berputar, dan ketika merasa lelah mereka saling membantu untuk duduk menepi di kursi.

Berpuluh tahun lalu, Jan dan Ratih adalah teman sepermainan di antara empat lainnya. Setiap sore sepulang sekolah, mereka suka bermain petak umpet. Suatu momen saat Ratih menghadap pohon dan menghitung sementara teman-temannya bersembunyi, ia mendapati dua orang tentara di balik badannya. Tentara itu sedang melakukan razia, terutama pada warga keturunan. Saat itu Jan yang sedang bersembunyi di balik gerobak sampah ingin menghampiri, tapi urung. Bisa-bisa ia ditangkap dan dihabisi nyawanya karena warna kulitnya yang kuning dan matanya yang sipit.Paratentara mengamati gadis kecil itu dari kepala sampai kaki. Setelah mengamati Ratih, kemudian melihat sekeliling dengan cermat, seperti sedang mencari sesuatu. Untungnya, kedua tentara tersebut nampaknya tidak berniat jahat. Setelah beberapa saat, kedua tentara itu kembali berjalan dan menghilang di belokan gang. Jan segera menghambur keluar.

“Maaf aku tak membantumu tadi..”

“Tak apa. Aku tahu bukan kamu tak mau, tapi tak bisa,kan? Aku mengerti posisimu, Jan. Lagipula aku tidak kenapa-napa.”

Jan tersenyum, lalu Ratih kembali menghadap pohon sementara Jan mencari tempat persembuyian lagi.

Dua tahun ini mereka membohongi perasaan masing-masing dan menyelimutinya dengan persahabatan. Jan dan Ratih tahu, filosofi keluarga Jan dengan darah keturunan Tionghoa sangat bertolak belakang dengan ketulenan suku Jawa yang dimiliki Ratih. Semakin mereka memaksakan hubungan, semakin menjerumuskan mereka ke semak belukar yang rumit. Seperti dunia yang tak berawal dan tak ada akhir, mereka memutuskan hubungan begitu saja. Tanpa ucapan, tanpa perpisahan.

Jan dan Ratih menikah dengan pasangan masing-masing hingga beranak-cucu. Istri Jan meninggal di usia 65 tahun karena penyakit kanker yang bersarang di tubuhnya selama tiga tahun. “Terima kasih, kamu telah menemaniku selama 40 tahun ini, Jan. Kejarlah bahagiamu yang sesungguhnya.” Jan memandangi terus-menerus pada kalimat terakhirsuratwasiat yang ditinggalkan istri. Jan termangu, menyadari istrinya sadar akan sesuatu yang hilang dari diri Jan selama usia pernikahan mereka.

Di belahan lain, setahun kemudian, Ratih bersama dua anak dan empat cucunya berduka atas sepeninggal suaminya yang berasal di dusun seberang. Ratih mengusap air mata nelangsa yang bercucuran terus-menerus di samping jasad suaminya. Ia tidak sanggup menghadapi perpisahan untuk kedua kalinya.

Semenjak itu, Ratih senang berjalan-jalan di taman sendirian, menikmati senja yang hangat. Di sebuah bangku taman, Ratih melihat seorang lelaki sedang mengobrol dengan anjingnya. Sebuah tongkat bersandar pada lutut si lelaki. Ratih duduk di sampingnya, berusaha meluruskan punggungnya yang bungkuk pada sandaran bangku. Ratih memperhatikan sinar mata lelaki yang teduh, mengingatkannya pada seseorang.

Merasa diperhatikan, lelaki itu menoleh ke arah Ratih. Jan terkesiap lalu tersenyum tipis setelah beberapa detik. Buat Jan, raut wajah Ratih masih persis seperti dulu, hanya saja kerutan menghiasi seluruh wajahnya.

“45 Tahun bukan waktu yang singkat, ya,” Jan membuka pembicaraan.

“Apa kabar?”

“Ya, seperti yang kamu lihat. Tua, keriput, dan mencari kebahagiaan.”

“Memang kamu tidak bahagia?”

“Bahagia. Tapi—“

“Tapi apa?”

“Masih kurang.”

“Oh.”

“Kalau kamu?”

“Aku punya sepasang anak dan empat cucu.”

“Kamu bahagia?”

“Tentu.”

“Bagus sekali.”

“Kamu ada acara sore ini?”

“Hm, tidak.”

“Tidak dicari istrimu?”

“Tidak. Ia sedang tidur tenang di surga.”

“Oh, maaf. Mau berjalan-jalan?”

“Bruno ikut, ya. Dia sedih kalau aku tinggal di rumah.” Jan menarik rantai Bruno, seekor anjing jenis Golden Retriever. Bruno beranjak dan berjalan pelan sekali, mengimbangi kecepatan langkah kaki majikannya.

Mereka berjalan terus menyusuri rerumputan dan sungai. Mereka melihat sebuah rumah kosong yang bobrok di seberang sungai. Bobrok, seperti tubuh mereka di usia senja. Rasanya, rumah itu tepat untuk tempat mengobrol. Mereka menyeberangi jembatan dengan sangat hati-hati.

Teras rumah bobrok memberikan kehidupan yang baru pada Jan dan Ratih. Mereka mengisi waktu dengan menyusunkan kembali keping-keping kisah mereka di masa lalu. Kini, mereka menertawakan kesialan nasib mereka yang terkekang tradisi dan batasan aturan di masa lalu. Andai saja mereka bisa memilih untuk lahir di zaman yang lebih moderen, tentu mereka tak akan mengalami pengotakkan antara orang pribumi dan keturunan Tionghoa.

Semenjak senja itu, setiap pagi sebelum fajar merekah, Ratih membantu menyiapkan keperluan sekolah cucu-cucunya, lalu berdandan.

“Eyang Ntih, kok belakangan ini eyang dandan terus sih? Suka senyum-senyum sendiri juga,” ujar Sari, cucunya yang ke sembilan, masih duduk di bangku SD. Ratih hanya tersenyum dan mengecup keningnya, lalu mengambil payung hijaunya dan melangkah ke luar rumah. Ia menuju rumah bobrok di seberang sungai.

Sementara, Jan sudah bersiap dengan kemeja dan kolonye-nya. Ia menuangkan makanan untuk Bruno, dan menepuk-nepuk kepalanya. Kemudian ia pergi menuju rumah bobrok di seberang sungai. Bruno sudah mengerti dan tidak keberataan ditinggal olehnya.

DisanaJan dan Ratih menyulam kembali kenangan yang tertunda. Mereka duduk di teras kayu yang reyot, saling berbagi cerita dan tawa. Mengingat-ingat masa-masa ketika mereka bermain bersama di lapangan bola, atau balapan sepeda sampai di perempatan sekolah. Mereka suka menikmati hujan, hingga Ratih tertidur di bahu Jan. Bahkan, tak jarang mereka berdansa bersama dengan musik dari alat pemutar musik tua yang dibawa Jan. Mereka selayak pasangan penari, yang berbahagia meliuk-liuk di atas panggung.

Menjelang matahari terbenam, mereka harus kembali ke dunia nyata, di mana keluarga dan cucu-cucu yang sah menunggu di rumah. Mereka harus berpisah, di depan rumah bobrok itu.

“Sampai ketemu besok, Ratih,” ucap Jan sendu.

“Sampai ketemu besok, Jan,” Ratih mencium tangan Jan yang keriput.

Setiap perpisahan mereka di ujung senja, seakan itu perjumpaan terakhir kalinya. Mereka selalu disergap kesedihan yang mendalam ketika hendak berpisah. Jan selalu memastikan punggung Ratih yang cembung seperti tempurung kura-kura itu sampai lenyap di persimpangan. Jan dan Ratih, menyimpan harapan yang selalu sama, supaya bisa bertemu di esok hari. Mereka tak tahu kapan ajal menjemput.

Begitulah yang mereka lakukan setiap hari di usia 65. Gairah mereka tak ubahnya seperti anak muda yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun di suatu subuh, Ratih merasa tubuhnya tak bisa bangun, matanya tak kuat membuka.

“Eyang Ntiiiiihh!” cucu-cucunya berkerumun, menggoyang-goyangkan badannya yang rintih. Anak-anaknya tak henti-hentinya mengucurkan air mata kehilangan. Ratih tidak merasa apa-apa, tapi ia bisa merasakan kepedihan di antara keluarganya. Satu yang sedang ia sesalkan, ia tak sempat menyampaikan pesan pada Jan untuk tidak udah menunggunya hari ini di rumah bobrok itu, karena tubuhnya letih sekali.

Benar saja, Jan sudah berdiri di menghadap ke rumah bobrok selama dua jam. Ia masih berharap perempuan yang dicintainya tiba-tiba muncul dari balik daun jendela, memberikannya secangkir teh pahit, seperti biasa. Tapi hari itu, hatinya sepi. Sunyi, seakan kenangan indah yang dimilikinya ditarik ke langit, kembali ia merasa dipecut tradisi, bahwa mereka tidak bisa bersama.

Angin semilir membawa pesan ke telinga Jan. Bukan hanya Jan yang merasa kehilangan. Tapi juga, angin, tapi juga retakan kaca, engsel pintu, serta rayap-rayap kayu di rumah reyot bersedih, merindukan siluet yang setiap harinya mengisi kekosongan disana. Air mata Jan jatuh tak tertahankan. Ia tersedu hingga tulang-tulang di bahunya yang kurus ikut bergetar. Ia meraung seperti seorang anak kecil, yang tak menemukan mainan kesayangannya yang hilang. Ia terus bertumpu pada kedua kakinya yang lemah, berpijak pada teras kayu yang reyot, dan tak ingin meninggalkan kenangan.

2011 © Hak Cipta. Fiksi Lotus dan Faye Yolody. Tidak untuk dijual, digandakan ataupun ditukar.

________________________

# CATATAN:

> Cerpen ini merupakan bagian dari workshop Lotus Creative: Periode I, belum pernah diterbitkan di media massa sebelumnya. Ditulis oleh Faye Yolody.

>> FAYE YOLODY adalah seorang jurnalis dan penulis muda yang sekarang ini berbasis di Jakarta dan bekerja di salah satu media ternama dalam negeri, Media Indonesia. Salah satu cerita pendeknya telah diikut-sertakan dalam buku kompilasi cerita pendek “Cerita Sahabat” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (2011).

Jimmy

Rieke Saraswati

Salju mulai turun di Manhattan.

Jimmy sibuk berkutat dengan gumpalan kapas. Hidungnya mimisan. Di sebelahnya, Tao, teman sekamarnya, sedang membaca novel sambil mengoceh pelan—entah kepada siapa.

“Apa sih yang kamu lakukan malam-malam begini?” tanya Tao, berhenti sejenak dari bacaannya.

“Semua ini gara-gara May,” rengek Jimmy. Kapas-kapas itu terlihat menutupi dua lubang hidungnya, sehingga membuat suaranya terdengar agak bengek.

Tao meletakkan bukunya di atas meja nakas samping ranjang. “Sudahlah!” Tao memutar bola matanya. “Tidur sana!”

Jimmy tiba-tiba naik ke atas tempat tidur teman sekamarnya, menimpuk, dan membekam kepala Tao dengan bantal. Tao mencengkeram lengan Jimmy kuat-kuat sehingga Jimmy terjatuh ke lantai.

Tao membentaknya setelah berhasil menumpas bantal itu. “Kenapa sih kamu?”

Jimmy terbahak. Ia beranjak dan mengambil minuman di kulkas di samping lemari pakaian.

“Katakan padaku sekarang,” desak Tao. “Kamu ke mana saja selama tiga minggu itu?”

“Kamu benar-benar ingin tahu?” Jimmy rebahan di kasur sembari memeluk boneka pandanya. Boneka itu merupakan kado dari May saat ia berulang tahun yang ke-27. Sekarang, boneka itu buta dan kumal. Bola matanya hilang satu, sementara bola mata kirinya gosong. Jimmy pernah mencoblosnya dengan filter rokok saat ia marah.

“Iya,” jawab Tao. “Kusangka kamu mau ikut-ikutan kabur seperti May.”

“Aku tidak segila itu,” protes Jimmy. “Kemarin aku berkeliling Jepang dan Afrika.” Ia menaruh boneka panda itu kembali ke tempat asalnya, lalu meraih buku milik Tao, memandang sederetan huruf yang tak berarti untuknya.

“Benarkah?” Tao melongo.

“Ya, tiket kudapat dari uang curian,” ungkap Jimmy. “Tolong jangan bilang siapa-siapa.”

Pacar Jimmy, May, lenyap sejak tujuh bulan lalu. Beberapa hari sebelum menghilang, mereka sempat bertengkar hebat di jalan.

Jimmy lantas merancang selebaran, cara yang menurut Tao sangat ketinggalan zaman untuk krisis semacam ini, di beberapa titik kota. Jimmy berdalih kalau internet tidak pernah berguna, kecuali untuk chatting dengan orang-orang yang tak ia kenal dan tak begitu ia pedulikan, juga membuka situs porno. Di bawah selebaran, Jimmy mencantumkan imbalan $10.000 bagi siapa saja yang dapat menemukan May. Tao bilang Jimmy sinting karena ia tahu teman sekamarnya tak punya uang sebanyak itu. Jimmy bilang ia akan bekerja rangkap. Salesman di siang hari, stripper di malam hari.

“Kamu memang bodoh!” kata Tao. “Kamu sudah kehilangan pacarmu, dan sekarang kamu bisa kehilangan pekerjaanmu.”

“May selalu ingin pergi ke Jepang dan Afrika,” gumam Jimmy. Matanya terpaku ke langit-langit kamar.

“Tapi kamu tak perlu merampok demi mencari May.”

Jimmy melempar Tao dengan bantal lagi. Kali ini lebih bertenaga. Ia kemudian turun ke lantai bawah dan menuju toko sebelah. Ia ingin menghadiahkan teman ngobrol bagi si boneka panda, membeli Garfield atau X-Men. Ia berpikir, bila ia tak cukup baik untuk merawat dan membahagiakan May, setidaknya ia cukup baik untuk menjaga boneka pemberian May.

2011 © Hak Cipta. Fiksi Lotus dan Rieke Saraswati. Tidak untuk dijual, digandakan ataupun ditukar.

________________________

# CATATAN:

> Cerpen ini merupakan bagian dari workshop Lotus Creative: Periode I, belum pernah diterbitkan di media massa sebelumnya. Ditulis oleh Rieke Saraswati.

>> RIEKE SARASWATI adalah seorang jurnalis dan penulis muda yang berbasis di Jakarta dan sekarang ini bekerja di media populer, MARIE CLAIRE Indonesia. Cerita pendeknya pernah dimuat di media massa lokal sebelumnya. Kini ia tengah berencana melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2.

Koma

Adeste Adipriyanti

Kuletakkan gagang telepon. Aku mulai terisak. Tentulah bukan sebuah berita menggembirakan yang baru saja kudengar. Berita perpisahan pahit dari orang yang sangat kusayangi. Mendadak kamar kosku jadi gelap dan sempit. Suara-suara menjauh, menyuramkan suasana. Aku terkulai lemas memegangi lututku yang bergetar, terlarut dalam kesedihan tak terbendung.

Kamar kos, Jumat pukul 06.00

Tangisku mulai mereda. Aku tidak pernah merasakan campuran emosi seperti ini. Kini aku tidak tahu harus bagaimana melangkah tanpa sosoknya.  Mataku tak sengaja menangkap sebuah foto yang terpajang di sudut ruangan. Fotoku dengannya, di rumahnya yang teduh beberapa bulan yang lalu. Dan kini ia telah pergi.

Bagaimana mungkin masa-masa ceria kami dengan cepat berganti kelabu. Begitu cepatnya Oma Tara meninggalkan kami. Hal ini tidak mungkin terjadi, Oma masih punya empat tahun lagi untuk hidup. Aku meraih dompetku dan mencari-cari secarik kertas merah.

Tertera serangkaian huruf, “Ba shi si.” Tulisan itu artinya 84 tahun dalam bahasa Mandarin. Aku mendapatkannya saat berlibur diSemarang tiga tahun lalu. Ketika aku sedang berteduh di sekitar Klenteng Siu Hok Bio yang menua dimakan zaman. Kala itu hujan deras mengguyurkotaSemarang, dan tiba-tiba seorang nenek bungkuk berpakaian serba hitam mendekatiku. Ia menawarkan jasa meramal padaku. Aku tak pernah lupa akan bola mata kirinya yang berwarna ungu dan berkilat-kilat menunggu jawabanku. Aku tidak pernah mau diramal. Lebih baik aku tidak tahu kalau umurku pendek atau jodohku jauh sekali. Tapi aku iseng menanyakan kira-kira Oma Tara hidup sampai umur berapa.

Nenek misterius itu mengambil kaleng cokelat lusuh dari tasnya, kemudian mengocoknya. Bibirnya tidak komat kamit membaca mantra, ia hanya memejamkan mata. Ia menyuruhku membuka kaleng itu dan mengambil secarik kertas. Aku mengambil yang berwarna merah—warna kesukaanku. Ia berpesan agar tidak membukanya hingga sampai di rumah.

Betapa bodohnya aku, percaya dengan bualan peramal itu. Toh, dari dulu aku memang tidak percaya dunia ramalan. Semuanya bohong! Peramal itu telah mengelabuiku. Selama ini, aku tenang-tenang saja ketika Oma masuk rumah sakit karena komplikasi ginjal. Aku selalu punya keyakinan teguh bahwa usia Oma masih panjang. Empat tahun lagi.

Stasiun Bandung, Jumat pukul 08.00    

Aku takut menghadapi kenyataan ini. Bagaimana kalau aku tidak bisa menguasai diri ketika melihat peti matinya. Bagaimana kalau aku meraung histeris? Apa jadinya keluarga kami tanpa Oma Tara? Apakah ikatannya akan masih sekuat dulu, ketika Oma masih mengharuskan seluruh anak, menantu dan cucunya berkumpul setiap hari ulang tahunnya?

Kereta Lodaya jurusan Solo segera diberangkatkan di jalur empat.Parapenumpang dimohon segera naik. Terima kasih. Suara itu lenyap di antara keramaian penumpang. Aku sengaja memesan tempat duduk yang dekat jendela, siapa tahu pemandangan persawahan dapat menjernihkan pikiranku yang kusut. Delapan jam lagi aku sampai di Klaten—kotatujuan berliburku tiap tahun yang selalu kusambut dengan sukacita. Namun perjalanan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Kamu mau dimasakin apa besok? Oma sudah belanja lidah sapi kesukaanmu. Atau kamu mau gurame goreng kering atau mungkin soto babat?”

“Semur lidah sapi saja Oma. Jangan lupa puding cokelat pakai saus vla dengan rum yang banyak.” Biasanya sehari sebelum keberangkatanku ke rumahnya, ia selalu menelepon. Tidak hanya memastikan kapan aku tiba tapi disertai pertanyaan, hendak makan apa. Aku tergila-gila dengan semur lidah dan puding cokelatnya. Ah, Oma Tara, juru masak sekaligus juru selamat. Jenis makanan apa saja yang ia buat selalu membuatku ketagihan dan bikin kangen.

Kereta Lodaya gerbong 3 kursi 11A, Jumat pukul 13.00

Ternyata pemandangan indah ini menyesatkan. Aku malah terbuai dan pikiranku mengembara ke berbagai jurusan waktu. 5 tahun yang lalu, 10 tahun yang lalu, bahkan 5 jam yang lalu.

“Jangan pernah takut kalau kamu tidak salah,” ujarnya suatu kali di atas kursi goyang sambil menjahit celemek dari kain perca. Itulah nasihatnya untukku di sebuah siang yang terik. Kala itu aku hanya mengangguk dan melanjutkan menyeruput es goyang. Aku tak terlalu menangkap maksud ucapannya itu. Satu hal yang pasti, Oma Tara punya sifat yang keras.

Kami, cucu-cucunya, tidak berani membantah perintahnya. Harus tidur siang. Makan di meja makan dan tidak boleh bersuara. Cucu perempuan dan laki-laki tanpa terkecuali harus bisa memasak dan membetulkan kabel dan alat elektronik. Harus berpakaian rapi dan bersih. Aku merasa seperti tinggal di asrama. Tapi jelas lebih baik daripada tinggal di rumah yang isinya hanya perkelahian Ayah dan Ibu.

Dulu aku sempat marah dan bahkan benci pada Oma Tara. Mungkin karena itu tadi, ia sangat galak. Sewaktu kecil, ketika kami masih tinggal satu rumah, Oma sering memaki Ibu. Membentak dan memarahi. Anehnya, Ibu hanya bisa menunduk dan tak bersuara. Aku tidak tahu apa permasalahannya. Mengapa Oma bisa begitu kasar pada Ibu? Aku hanya mengintip dari anak tangga, menutup kedua telinga sambil menangis.

Baru beberapa tahun yang lalu aku mengetahui, peristiwa 30 September 1965 membuat OmaTaraharus berpisah dengan Opa Kardi yang diciduk aparat. Oma yang tadinya hanya ibu rumah tangga biasa mendadak harus menjadi kepala rumah tangga bagi delapan anaknya.

Aku merasa bersalah, mengapa baru beberapa tahun ini hubunganku dengannya membaik. Mengapa baru sekarang aku bisa menerima segala kebaikan dan kejelekan Oma Tara?

“Menyimpan amarah sama dengan menenggak racun yang perlahan-lahan menghabisi tubuhmu sendiri.” Ibu saja memberi maaf pada Oma, mengapa aku tidak bisa. Lagipula dialah sosok yang selalu setia mengisi hari-hari liburku. Setiap tahun, tak pernah absen.

Rumah Oma Tara yang teduh, Jumat pukul 18.00

Turun dari becak di bibir gang, aku sudah disambut dengan suasana yang berbeda. Abu-abu. Kursi-kursi merah disusun rapi, tenda berwarna biru terpasang dari bibir gang hingga halaman depan rumah Oma Tara yang teduh. Deretan panjang karangan bunga tersebar di kanan dan kiriku. Oma memang cukup disegani di Klaten.

Semburat ungu senja yang muncul di balik atap rumah menyambut kedatanganku. Sayang bukan Oma yang duduk-duduk di teras, seperti biasa ketika aku datang ke rumahnya tiap tahun untuk berlibur.

Aku memasuki ruang tengah. Tampak berbeda. Ruangan tempat Oma menjahit atau menonton telenovela kesayangannya telah disulap menjadi ruangan yang indah dengan hamparan bunga yang didominasi warna putih dan ungu. Peti matinya pun tenggelam dalam rangkaian bunga yang meneduhkan hati. Keinginan Oma terpenuhi, mati ditemani belantara bunga.

Keretaku terlambat hampir dua jam. Artinya aku tidak bisa melihat Oma untuk terakhir kalinya. Petinya sudah ditutup. Mengapa memandangnya untuk terakhir kali saja, aku tak bisa. Mengapa keretaku harus terlambat sampai? Penyesalan ini belum sembuh hingga keesokan harinya…

Pusara Oma Tara di TPU Klaten, Sabtu pukul 10.00

Pada akhirnya, semua proses kedukaan ini akan bermuara pada satu sikap: penerimaan. Manusia akan menyadari bahwa hidup akan terus berjalan, bersama atau tanpa orang-orang yang kita sayangi.

“Jangan kapok untuk selalu main ke sini ya setiap liburan. Pokoknya ulangtahun Oma dan akhir tahun wajib ke sini”, begitulah pesan Oma Tara setiap aku pamitan untuk pulang.

Aku bahagia, paling tidak aku diberi kesempatan untuk memperbaiki hubunganku dengan Oma, walau hanya sebentar. Belajar darinya sebagai wanita perkasa, menjalani kerasnya kehidupan dan keluar sebagai pemenang.

Dan satu hal lagi, ternyata aku tidak dibohongi. Ramalan itu benar adanya. Tanpa sengaja kuketahui ketika mendengar percakapan sepasang suami istri di kereta waktu itu. Mereka berselisih paham karena sang suami, hendak membeli rumah di Jl Kutilang IV no. 4. Menurut sang istri, ‘empat’ adalah angka sial karena artinya mati. Dalam bahasa Mandarin “si” bisa berarti empat atau mati. Maka, bagi kaum Tionghoa angka empat itu dianggap dapat mendatangkan kesialan.

Peramal itu tidak bohong padaku. “Ba Shi Si” yang tertera di kertas merah yang ia berikan padaku waktu itu bukan berarti “84”. Melainkan “80 mati.”

Oma Tara meninggal di usia 80 tahun. “Selamat jalan Oma. Aku selalu menyayangi Oma.” Kutaburkan segenggam bunga melati ke atas pusaranya.

Tamat tidak selalu titik. Tamat bukanlah akhir dari segalanya. Tamat adalah koma. Karena kehidupan lain terus bergulir. Satu tertunduk mati yang lain tumbuh.

 

 

 

2011 © Hak Cipta. Fiksi Lotus dan Adeste Adipriyanti. Tidak untuk dijual, digandakan ataupun ditukar.

_____________________________________

#CATATAN:

> Cerpen ini pertama kali diterbitkan di Femina oleh Adeste Adipriyanti.

>> ADESTE ADIPRIYANTI adalah seorang jurnalis dan penulis muda yang sekarang ini menjabat sebagai Executive Editor di majalah August Man Indonesia. Ia tinggal di Jakarta.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.